Sabtu, 27 Juli 2013
Jumat, 26 Juli 2013
Novel Sempurna by Nonier
Penulis : Nonier
Penerbit : Gagas Media
Tanggal terbit : 4 Mei 2012
Halaman : 332 halaman
Aku tak akan membiarkan diriku jatuh cinta pada seseorang yang tak bisa kumiliki...
Kau adalah musuh bagi hatiku. Yang membuat aku waspada dan aku buru-buru membentengi diri agar tak terpikat oleh pesonamu. Tapi, kau terus memaksa masuk. Seperti kuda Troya, kau sukses menyelusup ke relung hatiku. Aku memang bertekad menjauhimu, tetapi jantungku ternyata tak cukup kuat untuk membendung setiap debaran yang tercipta karena dirimu.
Aku tau akan menyesali semuanya, tetapi tak ada yang bisa ku lakukan... Aku terlanjur menerjunkan diri ke dalam api cintamu. Terbakar bersama cinta yang kelak juga akan membumihanguskan kebahagiaanku. Aku nekat mengambil risiko terluka lagi... dan kal ini karenamu.
Kamis, 25 Juli 2013
Bukan tentang sore yang baik-baik saja
Senjaku tak bisa menjadi jingga. Ada pilu yang diam-diam menyelinap malu
Mengapa masih saja berusaha mengeja sesuatu yang pasti tak bisa terbaca
Merintih tertatih, pikirku kacau meracau ,,,,
Bukan lagi tentang bau tanah yang pernah kuceritakan, ah, ini hanya rindu
habis malam ini, semua akan baik baik saja ^_
#hujan deras
Senjaku tak bisa menjadi jingga. Ada pilu yang diam-diam menyelinap malu
Mengapa masih saja berusaha mengeja sesuatu yang pasti tak bisa terbaca
Merintih tertatih, pikirku kacau meracau ,,,,
Bukan lagi tentang bau tanah yang pernah kuceritakan, ah, ini hanya rindu
habis malam ini, semua akan baik baik saja ^_
#hujan deras
Selasa, 23 Juli 2013
—meja kayu nomor enam, suatu senja—
waktu itu, satu jam sebelum senja. kau
datang membawa lelah di bawah kelopak mata. kaki-kakimu sepakat
menghampiriku di meja nomor enam—meja kayu penuh gurat ingatan.
kita duduk dalam hening. barangkali diam adalah menu pertama yang tersaji di hadapan kita. kita pun sama-sama memesan semangkuk rasa manis yang lekat dan segelas dingin yang pekat,
dua puluh menit sesudahnya, kita sibuk menjatuhkan kesedihan di meja itu. membiarkan satu (lagi) kenangan buruk mencatatkan diri di pipih mahoni segi empat.
setelahnya kau beranjak, membawa sebagian aku berjalan di sisi kirimu—menyaru sebagai bayangan yang tak pernah sekali pun kau sadari adanya. menyisa separuh aku yang berbagi getir dengan semangkuk kolak yang pias dan segelas es teh manis yang tak lagi manis.
tetapi, Aditya, tak ada pahit yang menggenang. hanya ada sebuah sajak yang pelan-pelan tenggelam di ujung senja.
(hari ini, pagi pukul sekian)
http://layanglayangmerahjambu.tumblr.com
kita duduk dalam hening. barangkali diam adalah menu pertama yang tersaji di hadapan kita. kita pun sama-sama memesan semangkuk rasa manis yang lekat dan segelas dingin yang pekat,
dua puluh menit sesudahnya, kita sibuk menjatuhkan kesedihan di meja itu. membiarkan satu (lagi) kenangan buruk mencatatkan diri di pipih mahoni segi empat.
setelahnya kau beranjak, membawa sebagian aku berjalan di sisi kirimu—menyaru sebagai bayangan yang tak pernah sekali pun kau sadari adanya. menyisa separuh aku yang berbagi getir dengan semangkuk kolak yang pias dan segelas es teh manis yang tak lagi manis.
tetapi, Aditya, tak ada pahit yang menggenang. hanya ada sebuah sajak yang pelan-pelan tenggelam di ujung senja.
(hari ini, pagi pukul sekian)
http://layanglayangmerahjambu.tumblr.com
Hujan Kepagian
sudah lama aku mengukir sosokmu pada gerimis memastikan setiap serpih mimpiku untuk membangun istana cinta dapat menjadi nyata tapi semuanya segera sirna dan berlalu bersama desir angin di beranda “percayalah! aku ada dinadimu seperti kamu ada didarahku” bisikmu pelan ketika bayangmu perlahan memudar dibalik rinai hujan/
sepasang camar seketika menghampiriku: yang satu menjabat tanganku lalu berkata “selamat menikmati luka” dan satunya lagi sibuk menulis namamu pada serpihan kain kafan!
(Bulukumba 2010)
Langganan:
Postingan (Atom)